24 Sep 2016

Novel Martin


Kiat Sukses Hancur Lebur menurut saya bukan buku yang harus habis dibaca sampai selesai, kemudian menemukan sesuatu di belakangnya. Harapan pembaca akan terlonjak di akhir bacaan, membanting ke lantai, mencecap lidah, butuh seteguk minum untuk akhirnya keterpesonaannya pecah dalam satu kata: "Gila!".

Keterpesonaan itu justru muncul di bab-bab awal, pengantar, daftar isi dan bab pertama. Pengantar yang ganjil, judul yang tak masuk akal, dan kalimat serta struktur sejak bab awal sudah tidak benar. Selebihnya kita dijebak pada keterpesonaan tadi, pada akhirnya di dua bab selanjutnya saya menyerah, "tai, apa ini?"

5 Mei 2016

Horor di Masa Kecil



Mungkin kau perlu merasakan  langsung untuk tahu sensasi apa yang kurasakan saat kejadian yang akan kuceritakan ini terjadi. Pengalaman itu kan sensasinya orang-perorang ya. Pengalaman Irwan Bajang menulis cerita untuk serem mojok.co memang cukup berani, tapi tak terlalu mengerikan, namun tetap patut ditertawakan. Tapi buat dia tentulah seseram-seramnya pengalaman. Resolusi tahun 2016 saya adalah: mempertahankan durasi menggunjing, mempertebal kadar ejekan. Maka tinggalkan dulu Bajang, selamanya pun tak apa.

22 Okt 2015

Ketika Rinai Sakit



Ketika Rinai Sakit

ketika rinai sakit
air di mana-mana, di luar basah
di dalam diri kami juga basah

ketika rinai sakit
kami memasuki tenda pengungsian
orang-orang yang selamat dari jerat ajal
kapal karam, sisa mesiu dan asap di mana-mana
kesedihan kami adalah kesedihan mereka
yang kehilangan rumah, kehilangan anggota tubuh
kehilangan ladang, kehilangan keluarga
kehilangan masa lalu, dan jalan pulang

ketika rinai tak berhenti sakit
air mata kami adalah airmata ia yang disiksa majikannya
perempuan yang dirampas kehormatannya,
keluh kesah pasien rumah sakit yang jemu dan cemas

ketika rinai sakit
hutan terus dibakar, gedung terus dibangun
gerimis kecil ini tak mampu jadi penawar
berhektar lahan yang diludahi api,
penghapus debu di jalan berlubang
kesedihan yang diulang sepanjang tahun

rinai masih sakit
kesedihan kami adalah kesedihan sebuah bangsa
yang dikepung perang dari luar dan dalam tubuhnya sendiri

ketika rinai sakit
kami merindukan hujan sekali jatuh
menghapus api, melindapkan debu, memadamkan amarah
dan menghentikan kesedihan republik ini

2015

8 Jun 2015

Pura-puranya Wawancara

Saya diwawancara oleh Nabila Budayana, teman cerita di grop whatapp JBS untuk dimuat di web Alenia TV. Sudah lama sekali. Tiba-tiba, saya ingin memposting ini. Pertama untuk dokumentasi di blog pribadi, kedua biar ada tulisan di blog. Itu saja. Berikut saya kutipkanbulat-bulat dari postingannya.

Musik Minang


Pagi ini saya cukup terhenyak ketika mencari lagu untuk menidurkan anak saya, saya memilih lagu minang "Ampun Mandeh" di Youtube. Saya menyukai suara Ria Amelia menyanyikan lagu ini. Dari tautan itu, saya dihantar pada sebuah kejutan manis. Anak saya sudah tertidur, saya masih mencobai beberapa lagu.

26 Mar 2015

Saya dan UIN Sunan Kalijaga




Saya dan UIN Sunan Kalijaga
Bagaimana pun, saya sudah berhasil memakai gelar sarjana saya di undangan pernikahan, setelah bapak mertua setengah mati memaksakan. Itulah pertama kali gelar keren yang saya tak terlalu paham maknanya itu berlaku dalam hidup saya yang payah ini. Adek-adek yang masih sesak nafas dan kepayahan dengan urusan skripsi, saudara-saudari yang sedang dirundung duka lara karena ancaman DO, percayalah gelar sarjana sesekali menggoda juga loh untuk dipajang di momen yang tak terduga. Soal ijazah terpakai atau tidak, perkara nanti. Gelarnya itu loh, cukup membuat orang tua di kampung senyum-senyum hambar; antara pasrah dan bahagia.

13 Mar 2015

Ona Sutra dan Rahasia Hebat Para Sastrawan


Pada suatu waktu, dalam sebuah acara budaya di Semarang, seorang kawan penyair yang lebih jago membaca puisi dan improvisasi, ‘dipaksa’ membaca sebuah puisi ‘titipan’. Dengan setengah harga diri hilang sia-sia, pemuda bernama Kedung Darma Romansha yang akrab kupanggil Mancrot (tolong, kalian jangan ikut-ikut memanggilnya demikian) yang baru menerbitkan buku puisi berjudul Uterus itu, terpaksa membaca puisi tersebut dengan atraksi yang cukup canggung. Lembaran puisi itu ‘pesanan’ dari Jogja, sekira 2-3 lembar folio panjangnya, diselipkan ke pinggang Mancrot persis saat ia akan berangkat ke acara.

19 Jan 2014

Kepada Muphil Madonri


Lebaran 2012
Muphil, sakit kepala yang menyerangmu siang-malam itu telah kau sudahi kini. Sakit kepala yang membuatmu lumpuh, kehilangan sebagian kesadaran, dan di hari-hari belakangan kau kehilangan suara juga. Sakit kepala semacam apa ini yang bisa membuatmu merasakan semua itu? Sakit kepala macam apa yang membuat kau mesti pergi lebih pagi? Kepergianmu sore tadi, 18 Januari 2014, sekira jam 15.25 adalah penutup dari penyakit sialan yang menghajarmu sejak idul adha yang lalu, adikku.

5 Des 2013

#Kamisan Lem Kertas; Getah Kedondong, Koran Bekas

Yang penting tanggungan ini bisa diselesaikan, soal apa yang saya tulis tak lagi jadi soal. Hanya yang punya waktu banyak saja yang mau membaca ini sampai selesai.

Satu-satunya buku terbaru yang pernah saya beli adalah Majalah Bobo tahun 1994, ketika saya kelas 5 SD dan pertama kalinya ke kota. Saya kurang suka tampilan Majalah Bobo terbaru itu karena refensi saya hanya majalah-majalah bekas belaka yang saya (usahakan bisa) beli setiap pekan. Banyak cara untuk bisa sampai ke pasar yang hanya seminggu sekali itu. Bisa ikut sama tetangga, atau merayu ibu jauh-jauh hari agak kopi yang dijemur segera ditumbuk dan dijual. Siapa yang bisa ke pasar membeli bawang-cabe dan sedikit kue jika ke pasar hanya mengandalkan 2-3 kilo kopi mentah? Saya, saya orangnya. Penjual obat di pasar itu telah menggoda saya. Tidak bisa tidak, begitu sampai di Pasar Surantih dari mobil L300 yang diberi tenda itu berjalan pelan, saya melompat seperti kuda dan satu-satunya tempat yang paling mendebarkan adalah payung dari jahitan karung tepung dengan mikrofon mendesis di tengah keramaian.

29 Nov 2013

#Kamisan 10: Hitam-Warna


Apa yang akan kutulis mengenai semut? Soal kontrakan yang sekarang makin banyak semutnya karena jarang dibersihkan? Saya kira selesai begitu saja. Kontrakan ini sering waktu kotor ketimbang rapi. Soal lagu masa kecil yang liriknya, "Semut-semut kecil, saya mau tanya, apakah kamu di dalam tanah punya mama-papa.."

Semut-semut itu sudah pindah ke ikan bakar, dan semua yang bisa dimakan di kontrakan ini, Melisa. Bahkan ke sisa makanan Jhumpa. Barangkali saja semut-semut di sini termasuk kelompok semut-semut kere. Tapi lagu Melisa itu bagus. Saya jadi ingat waktu sunatan, Pak Gaek, bapaknya Abang (duh, saya malas memanggilnya abang) Mugil, sepupuku, yang memutar lagu itu bergantian dengan kaset Itje Trisnawati "Duh Engkang" dengan lagu dangdutnya Ine Shintia "Cinta Sayur Asem" yang asem itu. Liriknya gini kan, "Cari jodoh jangan bingung-bingung/ Cari saja seperti saya/Bisa masak dan cuci pakaian/ Soal dandan tak ketinggalan.// Coba bolehlah di coba/Mencoba buah durian/Dicium, di makan lalu di bayar..."