5 Mei 2016

Horor di Masa Kecil



Mungkin kau perlu merasakan  langsung untuk tahu sensasi apa yang kurasakan saat kejadian yang akan kuceritakan ini terjadi. Pengalaman itu kan sensasinya orang-perorang ya. Pengalaman Irwan Bajang menulis cerita untuk serem mojok.co memang cukup berani, tapi tak terlalu mengerikan, namun tetap patut ditertawakan. Tapi buat dia tentulah seseram-seramnya pengalaman. Resolusi tahun 2016 saya adalah: mempertahankan durasi menggunjing, mempertebal kadar ejekan. Maka tinggalkan dulu Bajang, selamanya pun tak apa.

Pada dasarnya saya ini penakut, tapi pura-pura tidak percaya dengan hantu. Di kampung saya, ada banyak sekali pengalaman magis. Andi, teman main saya, semalaman hilang dan paginya ditemukan tidur di dahan pohon kapas. Andi tidak sendiri, beberapa anak lain mengalaminya. Tidak mungkin ada anak kecil yang bisa naik pohon kapas yang berduri dan tinggi. Itu pasti perkara hantu. Imam Menek, lelaki tua legendaris di kampung kami, konon kalau pesan kopi di warung selalu dua gelas. Gelas pertama untuknya, gelas kedua untuk seseorang yang tak kelihatan wujudnya. Sewaktu-waktu pula rumahnya akan terdengar sangat ramai, tetapi bila diintip tidak ada siapa-siapa. Kononnya lagi, Imam Menek pernah tersesat di Lubuk Napa, di perbukitan belakang kampung kami, disesatkan ke negeri Bunian lalu menikah dan punya anak di sana.
. Hantu Kafan adalah menu sehari-hari. Bagaimana sepeda Bila Sulung tak bisa didayung gegara ada pocong yang duduk di boncengan. Atau Mak Sahar yang membual bisa membuat hantu kabur, nyatanya pernah dipermalukan  hantu di dahan pohon bacang. Doi mendengar ada buah bacang  yang jatuh matang, begitu disigai tak ada apa-apa. Ketika senternya di arahkan ke dahan pohon, menjeritlah ia sejadi-jadinya. “Matanya sebesar pinggan,” ucapnya terbata-bata.
Atau misalnya rumah lama Bado yang hampir tiap malam selalu berisik d bagian dapur, lalu pagi-pagi sendok, gelas, piring  kotor sudah berbaris di rak piring. Seolah semalam ada yang memakai dan merapikan. Tapi kondis alat-alat dapur itu centang-perenang. Belum lagi soal hantu durian, hantu awua, cingkiau, jilawik, dan semacamnya,  Pokoknya macam-macamlah.
Ada juga pengalaman saya dan kawan-kawan yang tersesat di dalam hutan ketika mencoba menjadi pecinta alam dalam hutan belakang kampung. Di tengah kebingungan kami pada arah jalan, kami mendengar suara motor, mobil, penjual es, suara anak-anak berteriak, suara ibu-ibu bergosip, suara ombak, yang kami kira pastilah itu perkampungan di pinggir jalan besar, di pinggir pantai, yang memang itulah tujuan perjalanan kami. Nyatanya begitu kami keluar dari rimbunan hutan dan mendaki sebuah bukit yang cukup tinggi, tahulah kami, bahwa kami masihlah di dalam hutan, kampung terdekat, nun di sana melewati perbukitan dan sawah-sawah.
Soal orang bunian ini mesti punya tempat sendiri. Bapak saya, dan saya sendiri punya beberapa pengalaman tak terlupakan dengan mereka ini. Ceritanya orang bunian ini tinggal tak jauh-jauh dari manusia. Hanya saja dimensinya berbeda. Pohon beringin besar bisa jadi kampung mereka, atau pohon laban yang seringkali mengeluarkan bau wangi masak-masakan yang terletak di sekitar ladang kami juga diduga merupakan tempat tinggal mereka.
Bapak saya pernah terkecoh gara-gara melihat seorang perempuan lewat. Dikira itu tetangga kami dari ladang sebelah. Saat itu petang hari. Hujan panas turun rintik. Pelangi memanjang di atas langit. Perempuan itu berjalan sendirian, membawa payung, lalu menghilang di pohon laban yang sering berbau  masakan itu. Itu pengalaman manisnya.
            Lain waktu, penghalaman pahit dialami bapak saya lagi. Suatu sore dia menebang pohon beringin di kepala ladang kami. Kami menyebutnya pohon Jawi-jawi. Sialnya, sore itu hujan juga, ada pelangi juga, horor-horor gimana juga. Pulangnya bapak saya sakit kepala hebat. Malamnya ia bermimpi didatangi suami-istri yang marah besar karena menebang pohon yang merupakan tempat bermain anak mereka. Katanya, hutang nyawa di balas nyawa. Tidak kurang dua bulan bapak saya meringkuk sakit, menggigau, dibawa pulang ke kampung, minum obat sampai nyaris overdosis.
Tapi itu kan pengalaman bapak saya. Yang ingin saya ceritakan tentu saja pengalaman saya sendiri. Karena pengantarnya sudah panjang, saya kira cukup dua saja sebagai pembuka cerita:

1. “Aku Bukan Bapakmu.”
            Ada sebuah masa di mana saya suka menyebut nama kakek saya. Kebiasaan anak-anak sezaman itu, saya kira. Generasi saya hanya pengikut yang sudah ada. Sebagai misal, jika Eka Keong ribut dengan temannya Olih, maka mereka akan berlomba saling menyebut nama orang tua lawannya. Olih menyebut nama bapak Eka Keong, “Eh anaknya Si Anu...”, dan Eka Keong, sebagaimana ditakdirkan pula akan berteriak membalas, “Eh Anak Si Itu e....”
            Begitu pula saya yang belum genap 6 tahun. Tubuh saya kecil, kurus dan sakit-sakitan, tapi lagi masa-masanya suka melawan. Cuma sama Ibu, dengan Bapak saya tidak berani. Entah sejak kapan pula saya suka menyebut nama ayahnya ibu saya.
            Sebagai misal, ketika sore menjelang, Ibu-ibu pada umumnya akan berteriak memanggil, “mandiiii..” Saya yang masih main akan pura-pura diam, atau bagaimana, pokoknya bikin ibu saya repot dan saya pun kesal. Lazimnya anak kecil saya pun gampang teriak-teriak sambil menangis dan tentu saja menyebut nama kakek saya.
            Entah apa dosa kakek saya yang sudah almarhum ketika saya belum genap 2 tahun itu sehingga cucunya dengan serampangan menyebut namanya. Perihal meninggalnya kekek saya, adalah ingatan saya yang paling jauh tentang masa bayi saya. Sungguh cucu durhaka. Hingga tibalah malam celaka itu. Kebiasaan yang saya lakukan berbulan-bulan itu akan berhenti sejak malam laknat ini.  
            Saat itu magrib menjelang isya. Saya dan dua kakak ada di pondok, sementara ibu dan bapak saya keluar untuk mengecek tanaman cabe mereka yang akan dipetik esok harinya. Gerimis turun dengan manisnya. Dalam kisah-kisah horos semua ditakdirkan semacam ini. Kami tinggal di ladang. Rumah yang kami tinggali hanyalah berupa pondok di antara pohon rambutan dan kopi. Pondok kami cukup tinggi untuk anak seusia saya. Di bagian dalam di sekat jadi dua ruang, ruang depan dan ruang belakang. Di ruang depan ada satu ranjang di ruang belakang juga ada satu kamar yang sekaligus ada dapurnya. Di bawah lantai merupakan kandang ayam. Di bagian depan ada teras. Tanah saja. Dan di sekelilngnya ada bangku-bangku panjang permanen tempat kami duduk.
            Di masa itu pula saya suka pipis di tangga kalau malam. Mungkin karena saya masih kecil sehingga orang rumah membiarkan saja. Dan malam itu, ketika kami tiga saudara berkumpul di ruang belakang, saya kebelet pipis. Meluncur saya ke depan, berdiri di depan tangga dan syuuuurrr...
            Tapi di kursi panjang sebelah kanan saya ada dua orang duduk. Saya berpikir Itu pasti ibu dan bapak saya. Tumben mereka tidak membawa lampu minyak. Sudah pulang mereka rupanya. “Mak, mak...” Saya memanggil. Mereka diam. Malam yang gerimis membuat saya tak bisa melihat wajah mereka. “Bak, bak...” Saya memanggil bapak saya. Jika Ibu saya suka iseng, bapak saya lebih elegan, jadi tidak mungkin menakut-nakuti anak sendiri.
            Tak ada jawaban. Saya iseng, “Kalau tidak jawab saya kencingi nih..” Titit saya arahkan ke salah satu di antara mereka, pipis saya mestinya mengenai mereka. Tapi tak ada suara bekas jatuhnya pipis. Saya stop dulu senang-senang ini.
            “Mak, Bakk..” Saya mulai merengek, cemas sekaligus sebal. Mereka masih diam.
Saya mulai cemas ketika mereka tetap diam.
“Mak, Bak...”
            Saat itulah salah seorang dari mereka buka suara, yang sungguh mati tidak akan saya lupa sampai hari ini, nada dan bunyinya. Kalimat yang datar, suara yang berat dan benar-benar bukan suara bapak saya. Pendek saja jawabnya, tapi bolehlah kau kasih musik yang cukup tegang agar kesan horornya dapat: “Aku bukan bapakmu..”
            Saya mengkerut tapi masih punya keberanian. Bisa jadi bapak saya sedang akting.
            “Terus siapa?”
            “Aku yang namanya sering kau sebut-sebut ketika MELAWAN pada ibumu.”
            Astagfirullah. Seketika saya menjerit dan lari kalang-kabut ke belakang. Saya takut, sungguh-sungguh takut dan langsung membayangkan kalau yang datang adalah almarhum kakek saya yang namanya sering saya sebut untuk balas mengerjai cucunya.
            Kakak saya keluar, tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ceceran pipis saya di mana-mana. Dari jauh senter yang dinyalakan bapak saya berkelap kelip di antara pekat malam dan rintik hujan.
            Saya berhutang budi pada almarhum kakek saya, yang sudi datang dan menerima cipratan pipis dari cucunya sekaligus memberikan pelajaran paling berharga. Kelak, di tangga ini pula, dengan ketakutan yang sama, beberapa tahun kemudian, di sebuah petang yang hujan, saya menjerit sama kencangnya ketika seekor babi hutan Yang terluka mengejar saya. Babi in akhirnya mati setelah pertarungan heroik yang melelahkan. Jagoannya mestilah bapak saya.

2. “Ini Dia yang Saya Cari.”
            Ada sebuah kepercayaan di kampung kami mengenai harimau, maaf, di sana, beliau disebut inyiek balang atau inyiek saja. Harimau itu terlalu kasar, jangan lancang menyebut nama. Salah satu mitosnya mengatakan: ada orang-orang tertentu yang memiliki pusa-pusa harimau. Pusa-pusa itu semacam uyeng-uyeng di atas kepala. Pusa-pusa harimau biasanya ada di kuduk. Jangan dibawa tertawa, itu bahaya sekali. Nyawa ini. Hanya Lias, satu-satunya yang tahu siapa yang punya pusa-pusa harimau dan bagaimana menanganinya.
            Sedikit tentang Lias, dia manusia penuh mitos. Satu-satunya orang, yang konon, bisa berubah jad harimau. Ia pernah merantau ke Jambi dan sejak itu dia adalah mitos itu sendiri. Dia hidup bersama harimau, berkawan dan karib dengan mereka. Karena pusa-pusa itulah lantas Lias dengan setengah ikhlas kembali ke dunia manusia.
Lias bukan orang sembarangan. Jika kau misalnya lagi mampir di Radiobuku dan bercakap-cakap bersama Lias dan Muhidin M Dahlan di sana, lalu pamit, bermaksud ke Toko Budi di Utara Jogja, naik motor dengan kecepatan tinggi, namun di saat bersamaan Lias juga ingin pamit karena merasa bosan dengan Muhidin yang seringkali memang membosankan itu, Lias juga berencana ketemu Irwan Bajang untuk mengurus honor bukunya, percayalah, begitu motormu parkir di Toko Budi, kau akan melihat Lias sedang keluar dari kantor Bajang sambil cengengesan karena baru dapat royalti. Dan dia jalan kaki. Sesakti itu orangnya.
Lalu soal pusa-pusa harimau, gampang saja, jika kau punya pusa-pusa harimau, bersiap saja, kau sedang diawasi oleh harimau yang sewaktu-waktu bisa memangsamu. Tidak begitu saja sih. Ada tahapan tertentu sebelum harimau mengambil jatah. Pusa-pusa itu ibarat buah, ada putik, buah muda dan matang. Nah, pusa-pusa matang ini adalah sasaran harimau. Tak ada ampun, begitu menurut cerita yang kudengar.
            Di situlah tugas mulia Lias. Ceritanya, Lias punya kesepakatan dengan harimau. Lias punya hak mengambil dan membuang pusa-pusa harimau, jika terlambat, keberuntungan buat sang inyiek. Dia dianugrahi penciuman tajam, mengendus dari jarak jauh di kampung mana ada orang yang memiliki pusa-pusa harimau. Lelaki mulia ini hidup dari satu kampung ke kampung lain. Secepat kilat bisa berpindah tempat. Suatu kali orang melihatnya jalan kaki di Balai Selasa, petang harinya dia sudah melenggang manis di Pasar Painan. Padahal, tak sekali pun Lias mau naik kendaraan. Bahkan, pergi dan pulang dari Jambi pun Lias jalan menerabas hutan.
            Maka, jika suatu hari dia datang ke suatu kampung, akan terjadi keheboan. Dia akan hilir-mudik sampai menemukan si empunya pusa-pusa. Lain waktu dia hadir di kampung lain, heboh lagi, pusa-pusa harimau lagi. Jika bertemu Lias di suatu tempat, artinya ada pusa-pusa harimau di sekitar itu. Jika Lias mulai bolak-balik di satu kampung dengan gelisah, tak mau bersuara dan hanya menggumam belaka, artinya si empu pusa-pusa sedang diincar inyiek balang. Pusa-pusanya sudah matang, siap-siap saja menjadi santapan inyiek balang. Lias akan berkomunikasi dengan inyiek untuk dapat memberinya kesempatan. Kita hanya bisa melihatnya bicara sendiri, menggumam sendiri, mengaum sendiri, marah-marah sendiri di tempat-tempat sepi.
Lalu bagaimana jika orang itu tidak tinggal di kampung, di sebuah tempat yang tak ada harimaunya? Tenang saja, takdir sudah ditentukan, jika tidak di makan harimau, si empu pusa-pusa akan mati berdarah. Bisa kecelakaan, dibunuh orang, jatuh dari gedung dan sebagainya. Pokoknya berdarah. Satu-satunya penyelamat adalah Lias. Lias, dan hanya Lias. Hanya Lias yang bisa mengambil pusa-pusa itu, menyelamatkan nyawa yang sejengkal dari mulut harimau. Dialah, dengan upacara tertentu merangkak di belakangmu, mengaum tiga kali sampai kudukmu bergetar dan sayup ada suara auman dari tubuhmu. Lias akan bergerak nyaris seperti seekor harimau memangsa. Merangkak, lalu meloncat ke kudukmu, menusuknya dengan duri, lalu menghisap isi pusa-pusamu.
            Suatu waktu, kampung kami heboh karena sudah beberapa hari Lias terlihat mondar-mandir di kampung kami. Pastilah ada yang punya pusa-pusa harimau. Orang-orang cemas. Satu-dua orang yang berhasil membuat Lias bersuara mengatakan, ada dua orang yang berpusa-pusa harimau di kampung ini. Satu laki, satu perempuan. Yang perempuan pusa-pusanya masih muda, yang lelaki pusa-pusanya sudah matang. “Aku bisa mencium baunya dari jauh dan orangnya ada di sekitar sini.”
            Aku mendengar langsung Lias berkata demikian. Sore itu anak-anak sedang bermain di halaman sebuah rumah, ibu-ibu sedang berkumpul, beberapa laki-laki baru pulang dari sawah dan ladang. Lias berhenti dan mendekati kami yang seketika menjadi tegang,
“Orangnya pasti di sekitar sini.” Begitu dia menegaskan, antara gumam dan auman. Kami sungguh-sungguh  panik. Beberapa anak mulai menangis.
Tapi ini ancaman, mesti segera diketahui siapalah kiranya orangnya yang punya pusa-pusa, sehingga beberapa minggu ini kabarnya inyiek menggila. Beberapa pemburu dan pemikat burung sudah pernah diperlihatkan belangnya oleh inyiek. Beberapa waktu belakangan bahkan babi hutan tak pernah mendekati sawah yang biasanya selalu dijaga. Ini pastilah tanda-tanda inyiek sudah turun gunung.
Lias masih mendengus. Orang-orang makin dibuat cemas sekaligus penasaran.
            “Memang baunya seperti apa sih, Pak?” Seseorang bertanya.
          Lias yang selalu menunduk memandang kami satu-satu dengan matanya yang dingin dan tajam. “Seperti nangka matang.” Lalu dia mengendus lagi. “Orang yang pusa-pusanya matang ada di sini.” 
         Lalu entah bagaimana, semua orang yang ada di lapangan itu berebut mendekati lias dan membukakan kuduk mereka sambil berkata: “Saya punya tidak, Pak?”
          Pertanyaan itu muncul bergiliran. Setiap orang, setiap kepala menyerahkan kuduknya ke arah lias untuk memastikan bukan mereka pemilik sial itu. Anak-anak sambil menangis didorong ibunya akhirnya tetap mendekatkan kuduk ke arah lias. Sepanjang itu Lias hanya menggeleng dan ber-hmm saja.
        Melihat semua orang menyodorkan kuduk, dengan menahan pipis saya  pun mendekat. Dengan kalimat patah-patah dan keringat bercucuran saya berkata, nyaris berbisik, nyaris terisak: “Saya punya tid...”
         “Ini yang saya cari,” Lias berteriak nyaring sebelum sempat saya menuntaskan kalimat. Seluruh bulu di tubuh saya langsung meremang. Mungkin saya terlonjak beberapa jengkal dari tanah. Sumpah, rasanya saat itu saya benar-benar kencing di celana. Umur saya belum delapan tahun ketika itu, dan suaranya sampai kini masih bergetar di kuduk saya. 

Mei 2016

Tidak ada komentar: