26 Mar 2015

Saya dan UIN Sunan Kalijaga




Saya dan UIN Sunan Kalijaga
Bagaimana pun, saya sudah berhasil memakai gelar sarjana saya di undangan pernikahan, setelah bapak mertua setengah mati memaksakan. Itulah pertama kali gelar keren yang saya tak terlalu paham maknanya itu berlaku dalam hidup saya yang payah ini. Adek-adek yang masih sesak nafas dan kepayahan dengan urusan skripsi, saudara-saudari yang sedang dirundung duka lara karena ancaman DO, percayalah gelar sarjana sesekali menggoda juga loh untuk dipajang di momen yang tak terduga. Soal ijazah terpakai atau tidak, perkara nanti. Gelarnya itu loh, cukup membuat orang tua di kampung senyum-senyum hambar; antara pasrah dan bahagia.


Saya Memilih UIN Sunan Kalijaga, Catat Itu
Saya masuk UIN Sunan Kalijaga tahun 2005, sebagai angkatan kedua kampus UIN yang sebelumnya masih bernama IAIN itu. 2004 saya sudah wara-wiri di ini kampus, sebelum benar-benar mendaftar dan tentu saja diterima. Bukannya apa-apa, saya ini orangnya jarang ditolak. 

Kesan pertama saya dengan kampus ini demikian intim dan akrab. Dulu ada tangga demokrasi yang sepanjang siang dan sore dedek-dedek mahasiswa dan tentu mahasiswi belajar orasi di tangga ini. Saya terpana dan terpesona. Begitu pula kesejukan masjid dan suara kipas anginnya, ada banyak orang memilih tidur dan membaca buku di sekitar situ. Di teras masjid ada banyak diskusi, dan tentu saya memilih tidur di dalam masjid sambil meandang dedek-dedek berwajah teduh berdiskusi. Seperti sebuah mikjizat, cocok kali saya dengan kampus ini. Dengan keteguhan iman yang sebesar biji jagung, siapa tahu lulus dari sini saya bisa jadi ulama. Minimal tukang kotbah. Barangkali ini juga yang menjadi bahan renung Muhidin M Dahlan ketika memutuskan masuk IAIN, dulu.

Menyisir kampus dengan status bukan mahasiswa membuat mata saya berlinang-linang takjub. SPP lumayan murah, kisaran 300 ribu saja. Tidak sulit mencari anak muda berpenampilan dekil macam saya. Warung makan sederhana banyak. Lagi pula saya lihat tradisi berbagi rokok lumayan menguntungkan bagi saya yang masih suka beli batangan. Wara-wiri begini, rasanya saya sudah macam mahasiswa saja. Tak terlalu beda, sama-sama pakai sandal, sama-sama pakai kaos, bedanya mahasiswa kalau masuk kelas sudah ada kemeja dekil di tas mereka.

Inilah takdir saya. Menyatu dengan mahasiswa kampus islami dan sejuk segar ini. Bapak dan ibu di kampung pastilah menyertai dengan doa yang berlipat-lipat, semoga anaknya akan menjadi semikian saleh. Beberapa kali kumpul dengan mahasiswa ini, saya sudah diajak diskusi-diskusi yang kinyis-kinyis. Saya hanya senyum-senyum dan takjub luar biasa bagaimana filsafat digigit seempuk bakwan jagung. Yang jelas saya akan punya teman di sini. Benar-benar pas dengan penampilan saya.

Namun begitu, saya tetap akan mencoba mendaftar di kampus lain yang negeri tapi perkiraan biayanya masih terjangkau. Pilihan saya jatuh pada UNY. Paling tidak saya bisa ikut tes SPMB (kira-kira namanya dulu begitu, saya tidak tahu sekarang istilah ini masih dipakai atau sudah dimuseumkan). Di UNY saya merasa agak canggung. Di UIN masih terparkir ribuan sepeda, di UNY motor bahkan sudah demikian karatan saking seringnya diparkir. Ceweknya wangi dan seksi. Saya takut saya tak bisa bergaul dan jadi korban bully macam di STM dulu lagi. Saya tidak mau dihina-hinakan karena penampilan. Tapi sekedar mencoba kan tak apa. Saya memilih sejarah dan sastra. Dan sebagaimana takdir hidup saya yang jarang ditolak itu, nama saya terdaftar sebagai Calon Mahasiswa Baru UNY di pilihan pertama: sejarah. Nama saya tertulis di koran. 

Ondeh mande, bangsa apa pula ini sejarah? Di luar itu semua, sumpah mati, saya keder dengan anak-anak UNY yang rapi, segar, ranum dan terkesan berkelas itu. Apalagi kalau sudah duduk di kopma. Saya kan kuper-kuper gimana gitu, tidak tahu di situ ada ekspresi yang telah menelurkan orang-orang cerdas, dan tangkas namun santun macam Muhidin M Dahlan di masanya. Kakak kelas saya pastilah Zen RS yang dingin dan seram tapi imut itu. Saya juga belum tahu di situ ada Sarkem yang dihuni hantu (mantan) pemabuk bernama An Ismanto. Tempat di mana kita bisa begadang, muntah di sembarang tempat, guyup macam di UIN-lah. Tapi sudahlah, Tuhan tak ingin membuat saya punya pengalaman lebih dramatis.

Bersamaan dengan itu, saya juga mendaftar di kampus UIN Sunan Kalijaga.  Berbarengan dengan itu pula kampus ini sedang mempercantik diri dengan dibangunnya gedung-gedung baru, dihancurkannya gedung-gedung lama. Pilihan pertama jatuh di Sosiologi sebagai jurusan dan fakultas baru. Betapa gagahnya jadi angkatan pertama. Saya memilih sosiologi karena ketika SMA saya pernah bertengkar dengan guru sosiologi yang sekaligus pembina Osis Kami. Itu saja, alasan lain tidak ada. 

Di bagian tertentu hidup ini berjalan dengan mudah. Saya sudah diterima di sejarah UNY dan Sosiologi UIN. Tanpa berpikir dua kali jelas saya memilih UIN. Pertama soal biayanya. Kedua ya itu tadi, saya akan langsung tenggelam dengan kesederhanaan orang-orang di kampus ini. Rasanya saya sudah punya banyak teman saja. Saya pun diperlakukan layaknya mereka, dengan sapaan khas mereka. Berjalan ke sini disapa “Gimana bung? Lagi nulis apa?” berjalan ke situ disalami “Dimuat dimana sekarang, Pak?” wah, benar-benar gagah itu sapaan, Pak dan Bung. Omongannya soal tulis-menulis gitu. Dan cara salamannya itu loh, saya ribet sekali mengikuti salam ala mahasiswa ini.

Saya dan Organisasi
Saya pernah coba-coba ikut organisasi. Jangan bilang-bilang Muhidin M Dahlan ya kalau saya juga pernah mendaftar sebagai bagian dari pasukan sang hijau-hitam. Entah yang A entah yang B. Saya juga ikut sekali-dua Mapala. Sekali-dua datang ke pertemuan, saya mundur. Saya pikir-pikir datang ke diskusi ini bagi saya bukan urusan kepala, tapi urusan perut. Mumpung lagi belum makan dan tidak ada rokok, lumayan nih bisa pinjam uang sama si anu dan si itu.  Saya tak ingin merusak pikiran orang-orang yang ingin mengabdi dan tulus pada organisasi dan negeri ini. Saya takut masa depan bangsa terhambat gara-gara urusan perut saya semata. Di luar itu semua saya orangnya malas dan pemalu. 

Dari seluruh kemudahan yang sebelumnya saya rasakan, kami dibenturkan oleh soal-soal lain yang agak rumit. Kampus jauuuhhh di dekat bandara. Dua fakultas sementara di tempatkan di sana karena pembangunan kampus yang gila-gilaan tadi. Hilanglah harapan saya berkumpul dengan orang-orang gondrong bercelana robek yang berorasi di tangga masjid. Punahlah keinginan tiduran di masjid kampus sambil memandang gadis berkerudung yang merunduk malu. 

Masjid mulai digusur, tangga demokrasi diratakan. Aktivitas mahasiswa mulai dikandangkan dalam ruang yang disebut Student Center. Beberapa mengikuti dengan patuh, yang laing memindahkan diskusi mereka di Kopma dan warung kopi. Dan saya suka mencuri dengar orbrolan di sana jika kebetulan mampu membeli segelas kopi d iluar makan dan rokok. Dan keramaian itu biasanya terjadi di siang hari, sementara saya mesti mendayung sepeda dari Sewon, di sekitar ISI, jalan Parangtritis sana, ke Bandara Adisucipto, di zaman mobil dan motor di kota Yogya barulah sekedar mitos belaka.

Saya seringkalibimbang, galau istilah sekarang, ke kampus nun di Adisucipto sana atau duduk di Kopma UIN, atau Blandongan sambil mencuri dengar percakapan keren sekaligus melihat dedek-dedek berkerudung yang tampak pemalu tapi lincah memainkan gelas itu? Saya seringkali takluk oleh keinginan kedua. Mencuri dengar pembicaraan sambil berkhayal punya pacar mahasiswi yang aktif di organisasi, tapi kalau berduaan suka tertunduk dan malu-malu. Betapa tergetarnya hati saya akan hasrat apel ke kos pacar, hanya boleh duduk di teras rumah, pegang-pegang tangan dengan muka bersemu. 

Saya memang ketinggalan zaman. seringkali keinginan saya itu hanyalah hasrat tulus dari seorang yang hatinya sedang diluruskan Tuhan. Susah bertemu cewek yang begitu, Bung. Kalau pun ada, mereka oleh agama dan organisasi, dilarang pacaran. Rasanya aku belum berpikir mampu menikah muda. Bisa jadi akses saya saja yang terbatas, cewek-cewek demikian begitu banyak, tapi oleh Tuhan dilarang dipertemukan dengan saya. Bisa saja. 

Sayuri Si Legenda Hidup
Di tengah-tengah pergaulan inilah saya mulai mengenal Sayuri, tokoh legendaris yang hidup di UIN Sunan Kalijaga. Hampir semua teman-teman dari Madura tahu sepenggal kisah dari manusia super abadi ini. Nyatanya 85% teman-teman saya ya mahasiswa dari Madura, otomatis dong Sayuri menjadi santapan sehari-hari saya. Saya dibuat terpingkal dengan kecerdasan akut tokoh yang saya kira sekedar dongeng ini. Hari pertama dia di Yogya saja sudah membuatnya demikian super. Ketika makan malam di sebuah warung langsung ditanya sama pedagang. “Mase sayuri nopo?” Lha, pikir Sayuri, ibu ini langsung tahu nama saya. Sejak malam itu Sayuri hidup dalam mitos.

Betapa tidak. Hidupnya lurus dan lempeng. Berpuluh-puluh kisah seputar aktivitas dia sebagai takmir masjid. Dengan gampang ketika menggarap skripsi, doi sudah tinggal di rumah pak dosen dengan beragam kelucuan baru. Belum lagi bagaimana ia meladeni huru-hara aktivis kampus. Bagaimana tokoh Sayuri ini hidup dan seluruh kelucuan-kelucuan di masa mahasiswanya, Bos Edy Alkelis, atau Achmad Muchlish Amrin, bahkan Mahwi Air Tawarlah yang jauh lebih pantas menceritakan ketimbang saya. 

Sebagai ilustrasi saja saja bagaimana menjengkelkannya dunia ini tanpa Sayuri adalah: setiap kali ada adzan di masjid selalu terdengar suara kresek-kresek tak nyaman. Mirip pedagang obat yang seringkali meniup mic. Setelah diamati, ternyata Sayuri adzan sambil merokok! Atau Sayuri yang tertidur saat jadwal adzan datang, begitu bangun tanpa perlu melihat jam doi langsung adzan, padahal oarng baru selesai shalat zhuhur. 

Sayuri demikian percaya diri. Konon, setelah menelusuri Peran Onta dalam Dakwa di masa Nabi, doi lulus dari UIN dan pindah ke Jakarta, tinggal di kantor PBNU lalu berternak burung di lantai atasnya. Kabarnya doi juga mulai akrab dengan politisi dan perlu belajar mobil. “Pak minta uang buat belajar mobil.” “Lha, kemarin sampean sudah dikasih uang untuk belajar nyetir kan?”, “Boo, yang itu belajar majunya pak, sekarang ini belajar otret.”

Sayuri bukan jatah saya, cukuplah segitu saja. Lagi pula, kabarnya, hidupnya sudah gilang-gemilang.

Dengan Demikian Saya pun Sarjana
Pada akhirnya, setelah waktu berjalan demikian cepat saat dikenang, saya menjalani hidup sebagaimana mahasiswa lainnya. Terlambat bangun, panik dengan tugas kuliah, masuk lewat gerbang belakang, dan menjadi demikian kritis dan nyinyir mengenai soal-soal sederhana.

Kebesaran hati saya sebelum jadi mahasiswa demikian sia-sia begitu saya jadi bagian darinya. Ibarat naksir cewek, enak ngejarnya, udah dapet ya bosan. Dalam dunia pergerakan nama saya tak ada, dalam ruang-ruang diskusi yang tegang dan mendebarkan, saya alpa. Benar, bahwa saya tidak sendirian dalam kesialan sebagai mahasiswa ini, tapi saya punya hasrat untuk mau seperti itu. Apa daya, saya disibukkan oleh urusan perut dan perkara gagah yang tak membuat saya lantas jadi apa-apa: menulis. 

Nyaris tidak ada yang bisa saya banggakan selama di kampus. Tak pernah menggebrak meja, tak pernah diskusi alot dan ruwet dengan dosen, berlari di jalanan menghindari pentungan, berkumpul dan bernyanyi membawa umbul-umbul organisasi, pegang microfon sambil beroarsi, bahkan memecahkan kaca saja juga tak pernah. Sensasi sebagai mahasiswa paling saya nikmati sebagai strata yang alamiah; rambut gondrong, merasa perlu mengetahui peristiwa-peristiwa penting dan mengomentarinya sambil menggigit pisang goreng, pinjam-meminjam uang, titip-titip absen, dan tentu saja masalah administrasi yang menyebalkan hingga urusan nilai yang amburadul.  

Dalam kondisi beginilah seringkali saya merasa menjadi mahasiswa.

Dan itulah, paling tidak saya bisa mencantumkan gelar sarjana di undangan nikah. Dalam urusan ini saya lebih mendingan deh. Jadi sekali lahgi dedek-dedek yang panik oleh skripsi dan ancaman DO, hambok diselesaikan dulu itu kerja kalian. Waspadalah, waspadalah...

1 komentar:

Putik Kamboja mengatakan...

saya menaruh hormat untuk para pecinta sastra yang berhasil mengkhatamkan gelar sarjananya... mantrab massss