13 Mar 2015

Ona Sutra dan Rahasia Hebat Para Sastrawan


Pada suatu waktu, dalam sebuah acara budaya di Semarang, seorang kawan penyair yang lebih jago membaca puisi dan improvisasi, ‘dipaksa’ membaca sebuah puisi ‘titipan’. Dengan setengah harga diri hilang sia-sia, pemuda bernama Kedung Darma Romansha yang akrab kupanggil Mancrot (tolong, kalian jangan ikut-ikut memanggilnya demikian) yang baru menerbitkan buku puisi berjudul Uterus itu, terpaksa membaca puisi tersebut dengan atraksi yang cukup canggung. Lembaran puisi itu ‘pesanan’ dari Jogja, sekira 2-3 lembar folio panjangnya, diselipkan ke pinggang Mancrot persis saat ia akan berangkat ke acara.


“Aneh banget loh puisinya,” demikian Mancrot berkisah dengan harga diri yang nyaris tak ada. Ia tertunduk. “Susah dibacanya, baris puisinya mengulang-ulang satu kata: tar-cetar-tar, tar-cetar-tar, gitu.” Oh, mungkin itu efek dramatisnya mungkin, kata saya setulus yang saya bisa. Biar kamu bisa merasakan sebagai pemecut kuda, atau barangkali cambuk untuk para budak.

“Saya tidak berniat menyimpannya. Sehabis baca ya saya buang saja.”

Pilihan yang bijaksana saya rasa.

“Saya baru tahu kalau doi juga menulis puisi.”

Menurutmu puisinya bagaimana? Saya memancing. Saya tahu si Mancrot ini sejujur-jujurnya penyair, sepolos-polosnya penyair. Maksud saya, untuk ukuran penyair ia penyair yang terlalu polos, seolah gampang dirayu, seakan mudah ditipu. Dan seringkali memang begitu.

“Jelek banget, men. Sumpah. Puisi yang aneh. Diksinya kaku, seperti esai tapi bukan esai. Seperti puisi tapi ini bukan puisi..” Dia melontarkan kalimat itu seperti memuntahkan seluruh kekuatannya. Wajahnya puas, lega selega-leganya. Tapi cepat ia menambahkan, “Tapi kamu jangan bilang-bilang ya, aku gak enak nih sama doi.”

Saat itu saya mengangguk. Dalam hati saya berjanji, “Pasti akan kubalaskan dendam aibmu, Kawan. Pasti!”

Untuk seseorang yang diam-diam meminta si Mancrot yang polos itu membacakan puisi, dan untuk semua penyair yang lariknya masih terasa kurang olahannya, saya ingin menyarankan: belajarlah dari lirik lagu dangdut, terutama Ona Sutra!

Jika anda sudah bernafas sejak awal tahun 80-an, yang suka mengunggu Album Minggu Ini di TVRI, jangan pura-pura tidak kenal dengan Ona Sutra. Barcelona, Bola, Terbayang-bayang, Asam di Gunung Garam di Laut, masih mengaku tidak tahu? Titip Cintaku, Sisa-sisa Cinta, tak kenal juga? Jika benar-benar tak tahu, sudahlah, buanglah harapan jadi penulis.

Saya buka rahasia besar pada kalian. Para sastrawan yang namanya kita hapal di luar kepala itu rata-rata penyuka dangdut. Ada banyak sekali nama yang bisa ditulis di sini yang jadi inspirasi para sastrawan. Saya menyebut satu dulu orang besar itu, dan karena ini panggungnya, dia adalah: H. Ona Sutra. Penyanyi kurus, keriting, selalu memakai rayben, dan cengengesan itu salah satu guru besar para penulis kita.

Cobalah anda buka youtube dan dengar sebaik-baiknya lirik lagunya. Saya ambil satu contoh. Tolong simak baik-baik lirik Barcelona ini:

Barcelona, dengarlah suara ini
Aaa.. aaa.. aaa…
(pada masa itu banyak penyanyi dangdut kita membuka lagu dengan teriakan-teriakan, diiringi suara piano, lagu ini pun demikian. Ini intronya)

Barcelona oh barcelona
terpaut pandang padamu
Barcelona oh Barcelona
senyum simpulmu menawan kalbu

Kau tempat mata bertemu mata
dari seluruh penjuru mata
Kau tempat cinta bertemu cinta
dari seluruh penjuru cinta

Barcelona oh Barcelona
kau primadona sembilan dua
Barcelona…

Seratus persen cintaku pada dirimu
bagaikan emas murni bukan tembaga
Sembilan kolam asmara aku renangi
sembilan lingkaran cinta aku jalani

Cari mencari si kumbang cari
yang aku cari ada disini
Langit pun tahu sayang, bumi pun tahu
engkau dan aku melepaskan rindu

Barcelona oh Barcelona
bolehkah aku singgah di sana
Barcelona..

Sudah? Apa yang anda tangkap dari lirik lagu itu? Itu lagu penuh diksi Bung.  Kalau belum puas, simak lagi lirik berikut ini:
Haaaa..........aaaa.....aaaa
Bola, hari ini kau nampak cantik sekali
Sungguh mengagumkan
Oh ya Bola, aku ingin mengatakan sesuatu padamu

Bolaaaa.. Tunggu...
(Intro yang tereak-tereak)

Bola, Bola Gayamu Mempesona (Oya, Oya)
Laksana Sang Primadona
Bola Tak Luput Dari Kejaran (Oya, Oya)
Sana Sini Jadi Rebutan

Bukit Tinggi Ku Lalui (Bola Bola)
Sungai Musi Kuseberangi (Bola Bola)
Topan Badai Kuhadapi (Ooooooooo)
Demi Cintaku Yang Suci (Gombal)

Bola Kau Terobos Gawang Cintaku (Oya, Oya)
Kau Bersarang Dalam Sukmaku, Bola

Kalaulah Tidak Karena Bulan
Manalah Bintang Hari Meninggi Hari
Kalolah Tidak Karena Dinda Sayang
Manalah Mungkin Aku Sampai Disini

Kanan Gunung Di Kiri Gunung
Tengah-Tengah Biru Telaga Biru
Badan Bingung Naluri Bingung
Resah Hati Gelisah Dilanda Rindu

Bola kau di sana aku di sini (oya, oya)
Jauh di mata dekat di hati.

Dasyaaat bung... Ini metonimia kelas wahid, diaduk dengan sinekdok, alegori, dengan menambahkan personifikasi, paralelisme, simbolik, dan memberi sedikit untaian simile. Komplit. Benar, lagu pertama berangkat dari spirit olimpiade di Barcelona, lagu kedua soal sepak bola. Tapi lihatlah, di luar peristiwa sejarah, parafrase bertebaran nyaris di sepanjang lirik dan, taraaaa... lagu itu jadi tembang cinta. Perumpamaan ini, tandingannya cuma Sapardi dan mungkin Jokpin.

Tak cukup dengan pengibaratan, Ona Sutra juga membikin kaum jomblo tak akan pernah lepas dari masa lalunya. Simaklah lagunya Titip Cintaku dan Sisa-sisa Cinta.

Ona Sutra seorang visioner sejati. Dia sudah meramalkan di masa depan akan ada twitter yang ciutannya pendek dan ringkas. Cobalah twitkan beberapa lirik lagu Ona Sutra di twittermu, Raditya Dika pun barangkali akan segera me-retweet-nya.

Ya, Ona Sutra juga jagoan memang dengan dangdut patah hati. Simak misalnya: bila kumenatapmu, hatiku tak menentu. Bila kita jumpa, berdebar dalam dada.// mengapa ini terjadi, sungguh aku tak mengerti, sedangkan kita sudah berpisah//. Nah, nah, nah.. bagaimana? Ah, satu Lagi:. Cinta yang dulu pernah bersemi, sekian lama pergi kini datang lagi.//mungkin di sana masih ada cinta, mungkin di sini masih ada cinta, sisa-sisa cinta di dalam dada. Sadiiiiss. Habis kamu, Mblo...

Soal lirik, Dangdut macam yang dinyanyiin Ona Sutra memang rada mirip dengan puisi. Dan ini rahasia kedua: Jika ada penyair yang sanggup menyamai keketatan lirik lagu dangdut, artinya ia penyair berbakat. Sebagai contoh, acak saja, kebetulan di meja saya ada puisi Irwan Bajang jadi saya mulai dari sana. Dan mari kitra lihat:

....kelak, kau akan menamai anakmu berbeda
Melupakan nama-nama
Yang pernah kita rencanakan di masa muda

Kau menggandeng suamimu
Lalu aku pulang menggandeng tangan bayanganmu
(Pada Resepsi Pernikahan Itu, Irwan Bayang)

Bandingkan dengan ini:
Aku rela melepaskan dia
Walau harus menderita
Karna cinta tidak selamanya indah dan berakhir bahagia
....
Biarlah derita kusimpan dalam jiwa
Asalkan bahagia slalu bersamanya
(Titip Cintaku, Ona Sutra)

Gila, kekuatan lirik puisi Bajang berada di atas lirik Ona Sutra. Jauh di atasnya. Ini pertanda baik. Masa depan anak muda ini akan sangat panjang. Puisi-puisi selanjutnya akan jauh lebih mumpuni, monumental, kredibel, perfek, dan luar biasa. Apa soal? Ia sudah membuka dirinya, menerima dangdut sebagai identitas kecil ruang privatnya. Dia berbakat, sebagaimana nama-nama yang nanti akan saya tuliskan. Tinggal sekarang, Bajang mau membuka diri dengan Ona Sutra, atau bagaimana. Saya menyarankan dengan kasih seorang kakak, cinta seorang sahabat: “Bajang, mulailah menambahkan lagu-lagu dangdut 90-an di antara koleksi ST 12, Stinky, Slam, Search dan Noah yang kau putar berulang itu. Jangan terlalu terpesona dengan Cita Citata.”

Untuk pembanding puisi dan lagu yang lain, saya kira kawan-kawan bisa mencoba-coba sendiri.

Demikianlah kira-kira, para penyair sebenarnya dibesarkan dangdut. Dangdut adalah ideologi para sastrawan kita, camkan itu. Tidak mesti Ona Sutra, tapi juga jangan terlalu cupu dan hanya mengenal Rhoma Irama.  Ada deretan tembang-tembang dangdut klasik yang liriknya abadi

Aneh sebenarnya ada penyair yang mencuri karya penyair lainnya, mestinya dia mencuri lirik lagu dangdut saja. Caca Handika kurang apa untuk tidak menerbitkan liur itu dia punya lirik, mana juga ada Dayu Ag, Mukhsin Alatas. Belum lagi sesendu-sendunya penyanyi dangdut macam Asep Irama yang bisa membuatmu berjoget  sambil membikin kolam airmata.

Saya sarankan kepada calon penyair sebaiknya memang mencoba lagu-lagu dangdut mellow. Hakikat penyair kan menjahit luka, kurang apa lirik dangdut begini untuk modal awal: kau menari-nari di atas lukaku ini...

Memang, Ona Sutra bukan satu-satunya, tapi dia masuk 10 besar pedangdut yang lirik-liriknya nyaris puisi.  Ona Sutra ini komplit, ya bisa menyanyi dengan riang sambil cengengesan, ya bisa melankolik sejadi-jadinya, melebihi Dea Anugrah, dengan tetap cengengesan. Tanpa bir, Bung! Jadi ayolah, yang tadinya suka diam-diam nyetel lagu dangdut mari mulai berani menampakkan diri.

Untuk sampai di ujung tulisan, supaya kau tidak merasa sendirian saya nukilkan sedikit orang dengan keteguhannya pada selera dangdut. Data ini bersifat rahasia, jadi jangan dikasih tahu orang lain. Sebagian data sumbernya akurat, sebagian lain ya saya cocok-cocokkan saja.

Teman saya Tia Setiadi cinta mati pada Mansyur S., dan syukurlah sama cinta matinya dengan Asam di Gunung Garam di Laut-nya Ona Sutra. Asam di Gunung pilihannya yang kedua setelah Pelaminan Kelabu-nya Mansyur S., jika kebetulan kami karaoke bersama. Mahwi Air Tawar menyuka semua dangdut tapi tak ada lirik yang terhapal sempurna. Afthonul Afif penyuka semua dangdut menyanyat hati, sejenis Evie Tamala. Gunawan Maryanto itu terinspirasi betul sama dangdut, The Queen of Pantura, kumpulan puisi terbarunya sebagai alat bukti yang tak bisa disangkal lagi. Dea Anugrah, penulis muda berbakat kita ini, selain rutin mengaji Terbayang-bayang-nya Ona Sutra, dia juga pendendang apik lagu-lagu melayu.

Agus Noor rasa-rasanya suka menyiulkan lagu-lagu Caca Handika. Dan coba tebak, lagu apa yang dinyanyikan Tokoh Utama Seno Gumira Ajidarma dalam cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi yang bikin perempuan tetangga mau mencincangnya? Ada dua lagu andalannya: Pertama, Mandi Madu yang dinanyikan Elvy Sukaesi. Liriknya begini: Basah, basah, basah, seluruh tubuh, ah, ah, ah, menyentu kalbu... Kedua, Janur Kuning, dinyanyikan Noer Halimah. Liriknya? “Kalau sudah saatnya/ sumpah perkawinan kita/ semua menjadi milikmu/ dari bukit-bukitnya yang menghijau/sampai lautan yang biru/kakanda sayang, aduh, aduh, kakanda sayang...//

Aih, maaaak...Kau bisa bayangkan efeknya kalau itu dinyanyikan perempuan segar jelita selepas isya di kamar mandi? Dia yang mandi, situ yang basah.

Coba tanya Puthut EA, harusnya dia hapal di luar kepala lagu Aduh Buyung, dan Hujan di Malam Minggu. Diam-diam dia menggilai Manis Manja Group, utama dan terutama sekali Ine Sinthya. Muhidin M Dahlan, itulah, dia hamba Rhoma Irama yang tiada tara, meski belakangan kepincut juga dengan lirik sendu Kangen Band. Eka Kurniawan, barangkali menggali inspirasi lewat penggabungan instant antara Hamdan ATT dan Meggy Z. Senyum Membawa Luka kata Meggy Z, Cantik Itu Luka kata Eka. Nah!

Joko Pinurbo,  dan Afrizal Malna, semua benda-benda di tangan mereka punya nyawa. Tak diragukan lagi, Ona Sutra, sudah. Coba simak lirik lagu Bola dan Barcelona tadi. Benda-benda menjadi hidup, kan, bahkan bola saja bisa bilang: Gombal! Dan Mas Jokpin dimungkinkan terinspirasi dari Gubuk Derita dan Orang Termiskin di Dunia dalam kumpulan puisi Celana. Bagaimana dengan A.S. Laksana? Kalau tak silap, berkali-kali Alit—tokoh yang sering muncul dalam cerpennya-- bertemu panggung dan penyanyi dangdut.

Dari kesemuanya, terlepas mereka juga menyukai Ike Nurjana, Itje Trisnawati, atau Fazal Dath, Ona Sutra adalah suara-suara yang menyerpih di antaranya.

Cintailah dangdut dan mari berasyik-masyuk dengan liriknya. Asal jangan kelewatan seperti teman saya Fahmi Amrullah. Si Ensiklopedia dangdut ini maqamnya sudah di luar batas kemampuan kita. Bagi dia, “Tak ada dangdut yang tak asyik,tak ada lagu yang tak koplo.” Koleksinya tidak main-main, mulai Dari Ellya Kadam, Reynold Panggabean, Rita Sugiarto, hingga Alvi Puspita, sampai marawis versi koplo dikoleksinya. Resikonya, ya itu, susah jodoh.

Sebagai penutup, kalian tahu siapa orang yang menulis puisi dengan memaksakan kata tar-cetar-tar, tar-cetar-tar sepanjang baris puisinya di awal tulisan saya tadi? Tak lain tak bukan, Muhidin M Dahlan, saudara-saudara. Lantaran baginya tak ada yang lain selain Bang Rhoma, itulah takdir puisinya.

Tar-cetar-tar, tar-cetar-tar...

*Tulisan ini dibuat untuk mojok.co tapi ditolak.*

3 komentar:

Ato Haryanto mengatakan...

Membaca tulisan ini seolah sy sedang mendengar org cerita dgn gamblang dan penuh ekspresi meyakinkan, jd ikut terbawa suasan sambil mlongo.
Keren bung..!!!
Sy bkn penulis atw sejenisnya makanya bahasa pun ga beraturan. Tp sy suka tulisanmu bung..!

muhammad edih mengatakan...

Teruskan karya tulismu

mbah tuk mengatakan...

Modyaaaarrr abizzz!! Ini cerpen berbobot.... tulisan ttg hati. You are the real writer