6 Agt 2011

Daftar Film Indonesia Terburuk versi Sendiri



Catatan Pembuka: Saya sudah pernah berjanji di blog Kuli Pelabuhan ini, meskipun Anda mungkin tak membacanya, bahwa saya akan menulis tentang Film Indonesia Terburuk sesuai segmen sesuai keinginan saya saja.

Tiba-tiba saya malas memakai segmen-segmen macam Drama, Komedi, Horor dan lain-lain itu. Sisa pilem Indonesia yang saya tonton sepanjang Mei kemarin hanya terbagi dalam 3 segmen saja. Pertama, yang ada judulnya di bawah (postingan sebelum ini) dan kedua Pilem-Pilem yang cukup menjengkelkan saya. Jadi menjengkelkan ini juga versi saya sendiri, sekaligus biar terkesan gagah dan gampang dicekidot di mesin pencari.


1. Not For Sale Keperawanan Tidak Untuk Dijual (2010)

            Dari judulnya aja sudah ketahuan kira-kira bagaimana film Indonesia terbaru ini bercerita. Meskipun pesan moralnya sangat jelas, “wahai anak muda dunia ketiga, hati-hatilah. Jangan tukar keperawananmu dengan BB dan laptop.” Tapi benarkah pesan moral itu sebenarnya muncul dengan sungguh-sungguh di dalam film-film kita.
            Not For Sale jelas macam Virgin, dan film sejenis. Gambaran-gambaran verbal sudah tergambar sejak awal. Ada tokoh baiiiiik dan jahat, ada orang miskin dan orang kaya. Nah, sambil terheran-heran ria, kita akan diajak bertualang dalam dunianya anak muda kita yang glamour. Sayangnya generasi clubbing ini di dalam film kita sekarang tak beda jauh dengan gaya tutur dalam film di zaman disko masih terkenal. Kita tinggal mengganti mejeng jadi nongkrong. Maksud saya, film-film dengan tonjolan sensual ini tetap saja seperti dulu. Menggembar-gemborkan nilai sosial dalam jualan, tetap saja memunculkan adegan ngawur yang mengingatkan kita pada Malfin Sheina, Liza Chaniago, Sally Marcelina waktu berjaya. Tanggung dan terasa betul-betul ditempelkan.
            Si Mei, tokoh utama kita yang baik hati, dan pendiam. Miskin pula. Hapenya jadul. Nah kan. Anak baik itu dikeluarkan sekolah karena dia dituduh jadi pelacur. Gak ada perlawanan apa pun. dia diselamatkan oleh Sasha (Arumi Bachsin, satu-satunya yang aku tau namanya). Mulailah petualangan klasik ini. ayah tidak kerja, rumah disita, membuatnya terjepit. Lalu bagaimana?
            Lihatlah bagaimana si Mei (Leylarey Lesesne atau si Chindy Anggrina?) berperan dengan sangat susah untuk bisa menjadi anak yang santun. peristiwa-peristiwa unik muncul deh. Putus sekolah, lingkungan ‘kotor’, bunuh diri, pembunuhan, soal lesbian, soal cowok psycho,  kekerasan, kecanduan narkotika, dilecehkan, clubbing lagi, clubbing lagi, punya hutang, ketemu cowok baik-baik, diselamatkan, kencan pertama, merasa ditipu, balas budi, broken home, teman-teman yang baik, masuk penjara, lalu bla-bla-bla… Brrrr… Capek deh… Si tokoh utama kita yang baik hati, lugu dan polos itu menyerah. “Jual gue, Shas..” katanya. Lalu adegan di kamar, betapa perihnya hati tokoh utama kita ini. Dia harus menyerahkan keperawanannya dengan hati yang teriris-iris.
Lalu apa? Di bagian akhir, tokoh-tokoh utama kita mati dan hanya bersisa satu! Lho? Lalu hubungannya dengan judul dengan jalan cerita? Mana ane tau. Jadi kata film ini kalau kamu ditolak cewek, iris urat nadi, kalau suda kekepet jual perawan, kalau tekanan semakin keras, bunuh orang aja, kalau ada yang teman yang jual perawan karena menyelamatkan kamu over dosis aja, kalau ada teman yang mati karena over dosis, bunuh diri aja… capek deh.Saya menilainya sebagai salah satu film Indonesia terburuk.

2. The Sexi City

      Judul kecil film Indonesia terbaru ini adalah Persahabatan, Cinta dan Keperawanan. Anjrit kok banyak sekali ya cerita dengan tema-tema semacam ini ditawarkan. Jalan cerita pun tak jauh berbeda. Secara keseluruhan alurnya tak jauh beda dengan Not For Sale yang saya bilang meniru standar Virgin yang lebih dulu nampang.
            Kenapa sih orang film kita sibuk sekali membicarakan soal keperawanan? Mereka sendiri yang menampilkan betapa glamournya kehidupan di kota besar, mereka sendiri pula yang kemudian menginginkan tokoh-tokohnya menjaga perawan. Kita lihat, apa ada yang berudah setelah itu? Tidak. Tokoh-tokohnya tetap saja menyerah oleh kondisi yang lagi-lagi sama.
            Bayangkan pula, kehidupan yang ditampilkan bukan latar kehidupan masyarakat yang ketat dan penuh aturan. Apa perawan sedemikian berharga di kehidupan yang sibuk dengan party dan mabuk-mabukan itu? Bukan soal penting atau tidaknya perawan. Apa film-film sejenis ini ingin mengatakan, “lu boleh hidup bebas, tapi perawan harus tetap dijaga.”
            Sampaikah pesan-pesan semacam ini bagi masyarakat kita yang jauh lebih kompleks seperti sekarang? Maaf ya The Sexi City, gue gak kesel amal u doang. Gue sebel aja kok ya begini saja terus kita berpikir. Kalau memang mau bicara moral dan etika atau mau lebih serius menjadi pelindung generasi muda kan bisa riset yang lebih halus dan tajam dan masuk ke cerita yang lebih sederhana. Lu tau kan lingkungan sekitar tokoh-tokoh kita ini sangat rentan pada karakter. Lu tau kan bagaimana gaya hidup generasi sekarang. Sekarang bagaimana nih ceritanya tokoh yang baru tiba di Jakarta, sendirian ini diusir dari kos karena sudah nunggak tiga bulan. Bicara keperawanan pun kita tak harus bicara secara verbal macam itu kan. Tokoh yang harus menjual keperawanannya saya kita sudah cerita basi. Lagi pula kenapa selalu Jakarta yang dijadikan latar kasus macam begini. Jakarta sudah menampung banyak dosa. Soal virginitas ada di mana-mana. Clubbing tersebar di berbagai kota, minuman tersebar di kaki lima. Jakarta harusnya tidak sekedar membicarakan lu masih perawan atau enggak. 
            Tolong, jangan suguhi kami lagi dengan pesan-pesan moral macam begini. Asal lu btau ya, seberapa banyak sih orang-orang yang sibuk clubbing macam begini? Kepada siapa sih sebenarnya film ini ditujukan? Seperti sex education yang mengajari seluk-beluk bagaimana caranya lu gak hamil kalo ML, lalu bilang, “harus perawan ya..”
            Sungguh-sungguh bernilaikah keperawanan bagi perempuan dalam masyarakat kita tanpa perlu bertanya kamu masih perjaka gak? Sudha, sudah, kesal gue. Saya agak serius, karena film ini lumayan serius dan beberapa pemainnya pun orang-orang yang cukup serius di dunia film. Duh, pascakolonial, duh semangat postmodern, duh globalisasi, duh Indrian Koto yang cerewet. Kasian deh lu!Sekali lagi, film ini bagi saya masuk dalam daftar film Indonesia yang terburuk.
                                   
3. Akibat Pergaulan Bebas (2010)


Film Indonesia terbaru yang satu ini dibuka dengan suasana yang ramai di clubbing, musik yang mengajak semua pengunjung bergoyang, di sela-sela itu terjadi transaksi narkoba. Dua orang gadis berangkat ke hotel. Yang satu ke tempat oom-oom, minum banyak, pipis di mangkuk yang disediakan. Yang satu bercinta dengan seorang lelaki dengan es batu, lalu pulang ke kos dalam keadaan mabuk.
            “Kita gak mungkin gini-gini terus kan? Kuliah kita mesti selesai kan?” Kata satu cewek sambil tiduran di ranjang.
            “Ya enggaklah. Kuliah kita harus selesai.” Jawab cewek yang satu sambil buka baju.
            “Tapi dari mana duitnya?”
            “Ya lu usaha lah. Jadi model kayak gue,” balas si cewek dengan BH hitam sambil ikutan berbaring.
            Di tempat yang lain, seorang gadis—yang habis party tentunya—juga pulang ke rumah. Melewati sebuah jembatan, perkampungan padat yang lengang. Di rumah si ibunya sedang ngamuk pada si bapak yang tak berdaya di atas ranjang. Gadis kita ini mendengarkan semua itu dengan erasaan hancur. Tentu ia sangat sedih pada si bapak yang tak berdaya.
            Paginya, di sebuah tempat yang lain, seorang gadis baru bangun dari tidurnya. Ia mencari si Mama dan si bibi pembantu bilang tidak pulang dari semalam. Papanya seperti menyembunyikan rahasia mereka.
Selanjutnya adegan yang seharusnya bisa ketebak sendiri. Soal jadi perempuan simpanan, hidup mewah tapi hati tersiksa. Lalu kampus. Si istri simpanan yang disiksa secara fisik. Si teman yang dibiayai temannya.
Si gadis, salah satu dari cewek tadi, yang tajir dan kaya malam harinya lagi-lagi mendengar bokap-nyokapnya bertengkar. Soal arisan, soal belanja ino-itu, soal bajingan dan tentu soal koruptor. Di gadis tidak tahan lagio. Ia ngamuk.
Pindah ke tempat lain, di sebuah club malam, si Kanya yang model memperkenalkan Dinda, temannya yang semalam mabuk bareng dia yang pingin jadi model itu ke seorang lelaki yang mau jadikan dia model. Dia mau jadi model karena butuh duit, mau mencari biaya untuk menyelesaikan kuliah. Lalu si cowok mau meniduri si gadis. Ditanya, masih perawan apa enggak. Si Dinda marah dan ngamuk sama Kanya.
            Musik mengalun. Musik yang seperti di awal cerita tadi itu. Diperkosa kawan.
         Inilah fragmen awal film Akibat Pergaulan Bebas.  Saya tidak boleh berkomentar sebab teman saya pernah bilang, “kamu menulis apa sih? Tidak jelas rsensi pilemmu.” Tapi bukan karena itu saya tidak berkomentar. Saya rasa, menonton pilem ini kalian semua juga akan secapek saya.
            Jika mau jujur pilem sejenis ini menawarkan pesan yang mkuat. Paling kecil misalnya, bagaimana peran keluarga dalam membentuk kepribadian anak-anaknya, persoalan hidup remaja kota besar, bagaimana pergaulan ikut mempengaruhi seseorang. Sayangnya yang ditampilkan adalah bagian-bagian yang sesungguhnya tidak penting dan melulu begitu penyajiannya. Hampir tidak pernah ada gambaran yang berbeda tentang keluarga yang berantakan. Persoalan orang kaya dan orang miskin menjalani hidup, soal transfer uang di rekening yang rasanya terlalu dibuat-buat. Soal tata suara yang seperti di dubbing. dan selalu mengeksploitasi tubuh.
            Bukankah penonton yang ingin dibidik adalah orang-orang yang secara fisik dekat dengan kehidupan ini. Lalu kenapa di pilem ditampilkan dengan cara yang verbal? Para pemain sendirilah yang merasa gugup menjalani peran mereka tersebut. Film dengan banyak hal-hal yang sebenarnya sangat menarik jika dieksplorasi dengan apik semacam ini, jadi kehilangan gregetnya akibat logika-logika yang tidak masuk akal.
            Film yang baik tentu mesti diimbangi dengan eksekusi yang baik pula. Dengan begitu pesan benar-benar bisa terbungkus rapi, terekam di benak penonton. Anak muda kota besar tidak sekedar clubbing dengan konsep yang itu-itu juga. Penonton pilem kita menjalani hidup jauih lebih rumit dari sekedar yang ditampilkan di pilem. Jadi sia-siala pesan yang sudah didesain sedemikian susah payah itu, jika tetap saja yang menonjol soal-soal remeh. Ambisi untuk menyampaikan banyak hal membuat pilem sejenis ini menjadi tidak jelas ujung-pangkalnya.
            Dan lagi-lagi, perempuan seperti Dinda, yang berusaha tidak menjadi pecun, tiba-tiba harus kehilangan apa pun dari dirinya. Bukankah dua pilem di atas semacam Not For Sale dan Sexi City sudah menampilkannya juga tadi? Apa yang membedakan jika sudah begini? Lalu apa yang bisa dibawa penonton yang mayoritas anak-anak muda itu?
            Saya, dan tentu mereka di belakang layar dan anda pembaca saya yang budiman tak sedikit pun berniat seperti ini. Sama sekali tidak. Seolah itulah pesan-pesan yang terus muncul di pilem-pilem kita belakangan ini yang bertema sama belakangan ini. Clubbing, persaingan, narkotik, selingkuh, dan jual diri.Dari kesamaan tema dan alur bagi saya dia lagi-lagi bagian dari film Indonesia terburuk.

4. Sweet Heart
          
             Tidak habis pikir saya.
            Kenapa bisa begitu ya? Apa maksud ini semua?
           Kalau bukan untuk menulis ini tidak bakal saya menghabiskan waktu menonton pilem yang dibuka dengan adegan orang mandi dan soal yang begitu-begitu terus. Yang beda apa? Genk sekolah? Kekerasan di sekolah? Kisah cinta anak remaja? Perselingkuhan? Impian-impian untuk terkenal? Atau keperawanan? Ember, ember, saya perlu ember.


5. Tipu Kanan Tipu Kiri 

            Saya selalu merasa cemas setiap kali Titi Kamal main pilem apalagi di genre komedi. Entahlah. Buat saya, dalam pilem-pilemnya, dia benar-benar sedang berakting.  Di pilemnya dia yang aku tonton yang muncul itu ya Titi Kamal yang berperan jadi siapa, tapi bukan sebagai siapa yang dimainkannya. Maksudnya lagi, ketahuan sekali kalau dia memang membikin-bikin. Jadilah Titi Kamal yang heboh, dengan tingkah laku yang unik, norak dan tentu saja rada garing.
            Kali ini dia main pilem di Malaysia. Ceritanya tentang Wulan, si Titi yang artis terkenal dan punya kontrak tak boleh menikah, hidup dengan suaminya yang bekerja di Malaysia. Karena kontrak si Titi eh Wulan inilah kisah berjalan dengan sangat pelik. Sangat pelik. Masalah hati, Cik.
            Sayang sekali penyelesaiannya lagi-lagi berpusing di soal klasik. Macam mana lagi, cerita dah udai dah.
            
Demikianlah sekelumit tentang Film Indonesia terburuk versi saya, tentu saja

4 komentar:

Wahyu Eko Prasetyo mengatakan...

barangkali kelainan nafsu mas.hehehehhe

kuli Pelabuhan mengatakan...

mungkin juga, bung. hehhe...

Wahyu Eko Prasetyo mengatakan...

Mantab. Ayo rame-rame berkelainan.hehhee

kuli Pelabuhan mengatakan...

tapi ane gak berkelainan nafsu. hanya selera. hahaha