23 Jun 2011

Menonton Film Horor Indonesia

Ihh.. Kok Bisa (Gak) Serem Sih...
   Beberapa hari ini saya sedang menonton film (selanjutnya disebut pilem) horor Indonesia. ada 20-an lebih yang saya dapat di warnet, sesuai kapasitas flash. Biar enak bacanya, saya bagi-bagi jadi beberapa genre dengan pembagian a la saya. Saya akan mempostingkannya dan membagikannya per genre.
            Untuk sesi pertama ini saya akan membahas pilem horor, tentu dengan cara saya. Ini bukan resensi, atau semacam kritik. Katakanlah catatan sehabis menonton. Sifatnya sangat subjektif. Saya juga tidak memberikan keterangan detail tentang masing-masing pilem karena tidak dimaksudkan untuk kajian serius dan ilmiah.
Bahasan saya mungkin tak bisa dijadikan penilaian, karena selera setiap orang tentu berbeda. Jadi apa yang saya katakan belum tentu benar, anda harus mengujinya sendiri. Caranya? Baca judulnya dan cari pilemnya.
             
A. Ihh… Kok Bisa (gak) Sereem Sih….

1. Pengabdi setan (1983)
            Sesekali kita tetap perlu menonton film Horor Indonesia lama semacam ini. Ya, sambil ngakak lihat gaya generasi 80-an. Saya sudah menonton pilem yang dibikin pas saya lahir ini berkali-kali. Sekarang baru saya tahu judulnya: Pengabdi Setan. Dulu saya dibuat takut dengan pilem ini, apalagi sampai pada adegan mayat yang dibangkitkan dari kubur. “Bangkiiitttt… Bangkiiittttlah…” Saya lumayan ngakak melihat konyolnya adegan-adegan dan teknologinya yang jadul itu. Tapi ngomong-ngomong apa ia teknologi pilem yang sekarang semakin canggih bisa menghasilan pilem dengan kualitas yang membuat kita merasa cukup puas?
            Sebelum saya ngomong panjang-lebar gini, ada yang tahu gak pilem yang saya maksud ini? Itu loh, tentang keluarga Pak Siapa Gitu yang dimainkan oleh WD Muchtar dengan dua anaknya (standar orba, satu cewek satu cowok) sepeninggal sang istri. Lalu ada orang jahat yang menyamar jadi pembantunya, entah karena alasan apa, dan mengganggu kehidupan mereka. Ujung-ujungnya si setan terbakar dan meledak. Selain Suzzana, perempuan yang menjadi antagonis di pilem ini (siapa namanya?) selalu menyeramkan bagi saya.
            Sampai cerita selesai saya makin ngakak. “Duh gimana sih ceritanya,” pikir saya, “kok ngawur.” Tiba-tiba saya diingatkan dengan pilem-pilem horor yang terus diproduksi sampai sekarang, tak ada bedanya dengan hantu di pilem-pilem dulu. Mungkin jenis hantu, artistik dan tata cahayanya semakin bagus. Soal pemain jangankan yang lokal, dari Jepang dan Korea pun bisa diangkut. Bahkan artis luar itu bisa saja dipajang hanya untuk mempertontonkan “cara mandi yang benar” atau kalau tidak disuruh memamerkan “BH dan celana dalam yang ideal bagi anda.” Pilem yang diproduksi tahun 1983 ini jika dijadikan acuan perkembangan pilem, tentu saja kita akan mendapatkan pilem-pilem horor yang menantang dan membuat kita terjungkal karena takut. 
Saya masih senyum-senyum setelah kata SEKIAN sudah tak terpampang di layar komputer. Saya merasa lucu dengan teror di pilem jadul ini. Namun ketika saya mengingat pilem-pilem horor Indonesia saat ini, senyum saya seketika lenyap.

2. Raped By Saitan (Diperkosa Setan)


            Ingat Teguh Yulianto yang berjaya awal-awal tahun 90-an bareng Reynaldi dan Ibra Azhari? Pernah menonton film horor Indonesia horor sensual di tahun-tahun itu juga, bukan? Nah, di Raped By Saitan, doi balik lagi boo jadi anak muda.
Judulnya serem ya. Tapi isinya gimana? Isinya playboy kampungan yang nongkrong di kedai pinggir jalan. Orang desa ke kota mencari kerja. Ada kantor yang entah bergerak di bidang apa. Ada bos yang cakep, muda lagi (kayak sinetron aja ya). Rumah besar. Cinta yang tak masuk akal. Tinggal di luar negeri. Pesta ulang tahun. Kolam renang. Fyuuhh.. gitu-gitu deh. Hantunya? Hmm.. jika sekarang kita sering disuguhi dan tentu mulai muak dengan pocong, di sini kita bertemu dengan semacam vampire. Semacam Vampire.
Ceritanya sederhana. Si tokoh utama kita datang dari Pekalongan (duhh.. yang dari luar Jakarta selalu saja terlihat kampungan) baru kos di kamar si playboy yang mati gara-gara ngeple dengan vampire betina. Si tokoh utama, kita yang mengingatkan saya pada ibu serem di pilem Pengabdi Setan, selalu diperkosa oleh si hantu yang tak berwujud itu. Tokoh kita ini ini bekerja di sebuah kantor entah bisnis apa. Bosnya bernama Raymond, muda cakep dan sudah kaya dari sononya. Marsha (Chyntiara Alona), tokoh utama kita bernama Marsha, pacaran dengan Andre. Berputar-putarlah kisah di seputar itu. Jalan cerita seperti yang saya ceritakan di awal tadi, seperti ingin mengembalikan tradisi pilem Indonesia sebelum gulung tikar. Persis seperti pilem-pilem 90-an, adegan percintaan terjadi tanpa harus buka baju.
Sepertinya orang-orang di belakang layar pilem ini orang-orang “dari masa lampau” sehingga mampu betul menampilkan peristiwa gaya lama. Alur ceritanya, konfliknya, tokoh-tokohnya, musiknya: persis pilem Indonesia menjelang bioskop bangkrut. Teguh Yulianto mungkin ingin reuni dengan mereka yang sering mejeng di bioskop ditahun-tahun dia jaya dulu. Bahkan adegan pembuka saja langsung ada suara cewek merintih-rintih. Jadi hati-hati dengan volume.
Heran deh kok masih ada pilem yang dibikin kayak begini, ya?

3. Selimut Berdarah (2010)
            Tidak hanya artis bokep Jepang yang masuk dalam pilem horor Indonesia. Ketika saya menonton film horor Indonesia berjudul Selimut berdarah, salah satu Artis panas Korea ikut terlibat. Sebagaimana pilem yang mengusung Miyabi, Sora Aui dan yang lainnya itu, mereka dipakai lebih untuk pemanis jualan belaka. Maka lihatlah pembuka pilem ini, kita seperti diajak pada gaya pilem adult Jepang yang dimulai dengan si artis aksi di depan kamera dengan bikini memamerkan sensualitas tubuhnya.
            Lalu ceritanya bagaimana? Apakah menurut anda itu penting? Sebagai rujukan utama saya ingatkan anda pada sebuah pilem India yang diperankan oleh Aamir Khan berjudul Ghajini. Ceritanya tentang seseorang yang setiap bangun tidur selalu lupa segala sesuatunya. Kayak Drew Barrimore dong. Nei, nei, yang ini lebih ekstrem, tentang balas dendam, Cyn. Dia menjadi pelupa karena pernah disiksa dengan kejam. Dia mengalami penyakit syndrom apa gitu yang pokoknya ingatannya menjadi sangat pendek. Rada-ada ilmiah deh. Hidupnya ke depan hanya untuk membunuh dan membunuh. Dinding kamar, meja, lemari, kaca semua berisi kata-kata perintah. Tak cukup itu, badannya pun harus ditatto dengan nama musuhnya.
Jadikanlah Ghajini sepenuhnya penuntun anda untuk masuk ke pilem Selimut Berdarah. Anggap saja ini versi Indonesianya. Lagian dalam pilem kita, India kan kerabat yang paling intim. Jika pilem India memiliki unsur dramatisasi yang menguras berember-ember air mata, di Selimut Bardarah, seperti yang sudah saya bilang di awal yang menampilkan artis Korea bernama Han Song Ho, maka gayanya pun rada-rada Korea. Maksud saya, agak sadis, dan menampilkan kekejaman dan darah di mana-mana.
            Lalu Eno Lerian dan Pingkan Mambo berperan jadi apa di film horor indonesia ini? Lalu apa pula peran Oom Roy Marten? Eitt, sabar. Bentar. Saya kan sudah bilang, referensi utama anda tetaplah pilemnya Aamir Khan tadi itu, meskipun beberapa bagian sudah menjadi (gaya khas) pilem Indonesia. Jika di pilem India banyak logika tak masuk akal, anda bayangkan sendirilah di pilem kita jadinya macam apa. Ya jelas tentang balas dendam atas kematian belahan jiwa. Pilem ini cukup menegangkan dan membuat anda ketakutan sambil mesem-mesem.
Lha, trus ngapain artis koreanya? Dia muncul di scane awal sebagai dengan BH dan CD di pantai menemani kita membaca teks-teks yang berisi nama pemain, siapa produser dan sutradaranya, penata musik dan editor. Berikutnya, nasib dia tak lebih baik dari Pingkan mambo. Ngapain si Pingkan Mambo, berperan sebagai apa dia? Kalau saya ceritakan nasib artis Korea dan Pingkan Mambo ini, saya khawatir anda akan menangis karena kasihan atas peran mereka yang boleh saya digunting dan dibuang. Trus apa maksud Selimut Berdarah dalam judul pilem itu? Rasanya tidak ada kaitan apa-apa.

4. Nakalnya Anak Muda (2010)
           Mengherankan juga, judul pilem yang rada populer ini ternyata masuk dalam kategori pilem horor. Lebih aneh lagi kalau pas menonton film horor Indonesia yang gak seram-gak lucu-dan tak begitu menegangkan ini. Dari awal dimulai sudah kebayang bagaimana cerita ini akan berjalan. Jelaslah pamer cewek yang lagi renang, cewek bangun tidur, cewek mandi. Wuaaahh… sebel, sebel, sebel, kok orang mandi mulu sih? Balik lagi ke awal. Setelah ada yang renang, ada yang bangun tidur, tentu rumahnya mewah, lalu dugem, kenalan sama cowok-cowok dan ke villa yang jauuuuhhh di dalam hutan. Sampai di sini sudah tertebak seluruh cerita yang akan terjadi. Pasti akan ada bunuh-bunuhan dan semua akan mati. Separuhnya benar, separuhnya salah.
            Hebat benar ya pilem Jailangkung yang menginspirasi begitu banyak pilem sejenis. Perlu diingatkan, di pilem ini kita kudu mengabaikan logika. Ingat inti ceritanya: tentang 4 orang cowok yang kenalan sama 2 cewek dan pergi ke villa. Selalu saja ke hutan. Ya kempinglah, ya tidur di villa lah, kebayakan pilem horor kita begitu. Asap di mana-mana. Jangan protes kalau ada rumah bagus tapi tersembunyi di dalam hutan. Jangan pula kaget kalau ternyata rumah terpencil punya fasilitas lengkap. Trus ada air terjunnya tuh di sekitar villa, Air Terjun pengantin dong.. Jangan pula ditanya pekerjaan anak-anak muda ini. 
Kekejaman pertama terjadi ketika dua tokoh kita mau ke air terjun. Satu mati satu ilang. Yang ilang namanya Andin. Cewek. Yang sisa memutuskan pulang ke Jakarta. Mau lapor polisi, katanya. Wah tamat dong. Enggak jadi kok ke Jakarta-nya. Balik lagi ke villa karena ban mobil kempes. Mereka biasa-biasa lagi. Lupa kalau ada temannya yang mati di sekitar situ. Tiba-tiba sudah langsung malam. Kok gak nelpon polisi aja dari sana, kan ada sinyal. Grrrr… ini pilem thriller tau...
Bayangkan kira-kiraapa yang akan mereka alami selanjutnya. Hanya tersisa dua tokoh saja: cowok dan cewek. Bodo amat siapa nama mereka. Pas diburu-buru si pembunuh, eh tiba-tiba sudah ada mobil di sekitar situ. Ih, pasti larinya jauh banget. Lho kenapa tadi siang gak lewat sini aja mas dan mbak?
Sampailah di Jakarta. Lapor polisi. Lalu mereka pulang. Pulang ke mana? Entah ke rumah siapa, yang jelas rumah besar dong. Dan tentu saja lengang.
Nah kan? Apa gue bilang. Abaikan logika. Yang harus tetap bikin kamu penasaran adalah, siapa sih pembunuh ini? Apa sih maunya dia? Tapi sumpah deh, ente sudah bisa menebak segala sesuatunya sejak awal. Jadi saya tidak perlu pakai rahasia segala deh. Yup, Si Andin, teman mereka yang ilang itulah si pembunuh. Dia mau balas dendam ceritanya. Balas dendam kenapa? Tahu gak se, empat cowok itu ternyata pernah memperkosa si Andin. Kok bisa?
Gini ceritanya. Di suatu pesta topeng, si Andin lagi mabuk dia diajak pergi sama si empat cowok itu. Di daerah sekitar villa itulah. Trus diperkosa. Si cewek masih perawan boo. Darah perawannya tercecer ke mana-mana. Atau si cewek lagi datang bulan kali ya. Karena mau lari dia dikejar terus tidak bernyawa. Lalu ia dibuang di air terjun yang dekat villa tadi itu, mungkin. Tapi dia selamat. Lari-lari pulang, tiba-tiba entah dari mana dia punya kekuatan untuk menjadi luar biasa, bisa membunuh, bisa ngangkat-ngangkat orang dan menghilang dengan cepat itu. Jangan pingsan dulu, ceritanya belum kelar.
Tadi kan kita sudah di kota, Jakarta nih. Begitu dua tokoh kita selamat dan istirahat dengan enjoy, si Andin, pembunuh kita udah sampai juga tuh di kota. Lho kok bisa? Huss.. Pilem thriller harus begitu. Balas dendam lagi, dong. Yang pasti ada adegan mandinya. Trus, trus? Si Andin akhirnya mati. Trus? Dua tokoh kita selamat. Trus? Selesai. Trus?  
Duh, film horor Indonesia.

5. Rayuan Arwah Penasaran (2010)
  Kasihan betul nasib artis Jepang yang ini. Dia tampil di awal cerita pas makan es krim dan ciuman sama Ma Botak. Jelas, mereka nih sepertinya pacaran. Dia muncul lagi di seperempat bagian akhir ketika dia disandera sebelum akhirnya dibunuh. Dan terakhir dia muncul lagi sebagai hantu cantik yang menari-nari seperti pembukaan pilem bokep Jepang. Sudah. Itu saja. Tak ada dialog yang diucapkannya. Tak ada kata-kata apa pun yang perlu dihafal selain merintih “Aaaa… Aaaaa…”
Bukan, bukan sedang bercnita dan bukan desahan nikmat, meskipun bunyinya rada-rada sama. Itu rintihan karena dia kesakitan dan ketakutan. Ketika kukunya dicabut ia merintih, “Aaaa.. Aaaa...” bukannya berteriak kesakitan. Ketika dilukai wajahnya dia merintih lagi, “Aaa… Aaaa…”
Di pilem tidak ada penjelasan apa pun tentang identitas cewek yang diperankan si artis jepang. Pokoknya dia pacar tokoh utama kita. Tokoh utama kita, Mas Botak yang terlihat lemas di sepanjang pilem itu cinta mati sama cewek ini. Dikira kita penonton bisa maklum aja ketika tak ada dialog buat si cewek. Pasti karena dia tidak bisa ngomong Indonesia. Tapi soal identitas dia yang tak jelas dan bergulir di sepanjang pilem mau diapakan.
            Sebagai misal, kenapa adik Si Botak kita itu benci sama si Ira, cewek Jepang yang berperan entah sebagai orang mana itu. Lalu bayangan-bayangan hantu dari orang mati terus muncul dan membuat kita kebingungan. Cerita semakin aneh dan ngawur ketika narasi mulai bercerita soal bom. Dan ngawur lagi ketika Rahma Azhari ikut main sebagai tokoh yang tentu saja boleh digunting dan dibuang tanpa mengubah apa pun dari cerita. Lalu kenapa dia masuk? Kan (seperti di omongkan dalam pilem) dadanya besar, selain itu nanti kan bakal ada adegan mandi. Jadi malang betul artis-artis perempuan kita ini. Entah kenapa pula, pilem horor kita mesti menampilkan cewek mandi.
            Nah anda tentu akan terbelalak kaget ketika sampai di ujung cerita. “Oh.. ternyata…” “Astaga…” Pilem rasanya berhasil menipu penonton dan semua dugaan mungkin salah. Wah capaian baru dong dalam pilem kita. Eit tunggu dulu, mereka yang sudah menonton Sixth Sense tentu akan ngakak jika ada yang berucap begitu.
            Anda akan lebih ngakak lagi mendengar dialog-dialog yang puitis di berhamburan di sepanjang pilem. Apalagi jika anda mengikuti narasi yang dibacakan tokoh utama kita yang pura-puranya sedang menulis cerita tentang perjalanan kisah cintanya itu.
            Produksi pilem ini K2K, sama dengan Selimut Berdarah. Selain beberapa pemainnya yang sama, ada semacam upaya menampilkan horor dari sisi lain. Sayangnya mereka memilih jalan aman, meniru alur pilem yang sudah digarap orang-orang di luar sana. Kesannya sekedar memindahkan saja tempat dan mengganti beberapa bagian. Yang menarik adalah upaya mereka memasukkan tragedi bom ke dalam cerita meskipun  itu terasa semata-mata untuk mengejar dramatis. Sisanya kebocoran-kebocoran terpampang dengan sangat terang.
       Begitulah pengalaman saya menonton film horor Indonesia ini. adegannya Ada cewek mandi. Pemain-pemain tertentu yang dimasukkan semata-mata menjual sensualitasnya saja. Isu-isu feminis ternyata tak banyak masuk ke dalam sistem pilem kita ya. Hehe… Duh Rahma Azhari, satu-satunya adegannya yang alami ya pas mandi itu.

Sementara, itu pilem yang "Ihh.. Kok Bisa (Gak) Serem Sih". Pilem-pilem ini saya tonton minggu ketika bulan Juni ini. Kalau masih kuat dan berani nonton (berani melawan kantuk dan kekesalan maksud saya) nanti akan saya bagi lagi. Besok akan saya ceritakan genre yang lain. Anda semua pastinya punya pandangan yang berbeda dengan saya mengenai pilem yang saya jelaskan di atas atau pilem horor Indonesia lainnya. Anda juga boleh merekomendasikan pilem lain untuk saya. Saya tunggu respon baliknya.
Sukses untuk pilem Indonesia. Berjayalah. Kita akan selalu mau menonton film horor Indonesia asal digarap lebih keren lagi.

4 komentar: